Ingin Yang Butuh

 Assalamu'alaikum warrahmatullahi wabarrakatuh.

Banyak teman saya bilang klo saya tuh tidak techno atau branded minded. Sering banget ketinggalan jaman dalam hal kepemilikan barang. Maksudnya ketika dulu HP sedang marak menggantikan pager, teman2 sudah punya bahkan yang teknologi terbaru. Sedangkan saya baru beli HP belakangan setelah melihat kebutuhannya, yang jadul pulak. Atau ketika 'terpaksa' beli kemeja karena udah pada lapuk maka tidak harus branded, cukup di kaki lima dan lapakan. Hanya ketika punya istri saja pembelian pakaian menjadi lebih teratur dan 'keurus' :).

Pun ketika teman2 juga pada beli mobil baru, saya masih setia dengan Carry putih tercintah karena fungsinya yang multi talenta yaitu untuk ngompreng, ngelapak, bagian belakang muat banyak ketika kulakan ke tenabang atau muat bawa gerobak kecil dan yang utama ngirit karena cc-nya yang kecil.

Pelit ?. Entahlah. Saya hanya belum melihat kebutuhannya ketika itu atau saat ini. Baru sekedar keinginan. Padahal kata orang keinginan semata lah yang seringkali membuat membeli sesuatu yang tidak penting dan hingga bahayanya jika kita bersikap konsumtif. Padahal bukan sesuatu yang sebenarnya kita butuhkan. Seperti teman yang bilang beli penyemprot air canggih untuk cuci mobil tapi akhirnya seringnya malah cuci di luar. Atau istri teman yang satu lagi yang beli oven super modern untuk memasak tapi ternyata jarang sekali terpakai.

Tapi saya masih salut sama seorang teman yang baru beberapa hari yang lalu melepaskan barang2-nya dan diberikan kepada orang lain dengan alasan mubazirnya barang2 tersebut dan kuatir jika ditanya oleh Allah SWT perihal kegunaan barang2 tersebut. Subhanallah. Level spiritualitasnya emang udah jauh ini mah :).

Sekarang pun sudah mulai banyak penggiat hidup minimalis. Mencoba naik angkot, tidak membawa uang berlebih atau senangnya hanya memakai pakaian kasual sederhana. Banyak selebritas bisnis seperti pendiri Facebook yang katanya masih suka nyetir mobil tua dan makan makanan sederhana padahal sudah menjadi trilyuner. Atau keteladanan kesahajaan presiden Iran.

Life below your mean. Hidup dibawah keinginan2 kita. Jangan besar pasak daripada tiang.

Dengan hidup sesuatu kebutuhan maka banyak manfaat yang bisa didapat. Dari mulai bisa mengumpulkan modal usaha, menekan pemborosan keuangan, berempati terhadap kaum dhuafa bahkan mendukung kegiatan go green walau sebagian menyatakan itu sebagai sesuatu yang naif.

Lalu gimana donk membedakan antara keinginan dan kebutuhan ?. Standar kebutuhan dan keinginan setiap orang seringkali berbeda dan menjadi relatif. Kadang tergantung dari kondisi lingkungan, aktifitas harian, tuntutan profesi dsb.

Ada definisi yang mengatakan bahwa kebutuhan sama dengan fungsi sedangkan keinginan adalah tambahan yang dilekatkan pada fungsi tersebut. Contoh makanan adalah kebutuhan agar kita sehat dan bisa beraktifitas, tapi makanan enak adalah keinginan agar terpuaskan. Atau pakaian adalah kebutuhan untuk menutup aurat dan menghangatkan, tapi pakaian yang mahal, modis dan branded adalah keinginan tambahan agar diakui, nyaman dsb.

Klo saya punya definisi sendiri yang lebih sederhana. Keinginan dan kebutuhan itu seperti mulut dan perut, apa yang diinginkan mulut belum tentu dibutuhkan perut. Hehe.

Maksud tulisan ini sebenarnya adalah bahwa ada sekian banyak orang yang ingin memiliki usaha namun menyatakan kepentok modal, dalam hal ini uang. Namun klo kita telisik lebih jauh ternyata kehidupannya berkecukupan bahkan lebih. Atau umpama ada yang nulis di milis butuh modal untuk usaha tapi signaturenya 'powered by iPhone' hehe.

Hidup prihatin dulu. Kumpulkan modal dari cara kita berhemat karena masih jauh lebih baik dengen modal sendiri daripada pinjam atau hutang. Saya sebenarnya malu menyatakan ini karena masih jauh dari hidup prihatin dibandingkan cerita rekan2 lain yang memulai usaha dengan penuh keprihatinan atau ratusan bahkan jutaan orang lainnya yang memulai usaha dengan hidup penuh kekurangan awalnya atau berdarah-darah istilahnya. Kita hanya cenderung melihatnya hanya dalam potret kesuksesan mereka saat ini.

Mengikuti jejak mereka, yuks mulai membedakan mana sesuatu itu yang keinginan dan mana yang merupakan kebutuhan. Hemat terhadap diri sendiri tapi royal dalam sedekah atau untuk diberikan di jalan agama. Lagi belajar juga nih.

Bagaimana dengan anda ? :).

Wassalamu'alaikum warrahmatullahi wabarrakatuh.

-Eko June-

2 Comments

Please Select Embedded Mode To Show The Comment System.*

Previous Post Next Post