Bahaya Ternak Teri Medan

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Selamat menempuh hidup baru kepada rekan2 yang sudah berani memutuskan untuk berpindah kuadran dari karyawan atau ampibi (punya usaha sambilan) menjadi full wirausaha ... the resigners. Welcome to the jungle, di dunia yang penuh dengan tantangan dan ujian dimana setiap kali berhasil dilalui maka naik pula level kita dalam kehidupan. Dimama rasa syukur dan ketaqwaan kudu lebih tebal lebih mantap, karena bos nya sekarang langsung kepada Allah SWT. Dia senang, kita senang ... Dia marah bisa amsiong usaha :).

Kemarin sudah menjadi diskusi betapa enaknya menjadi Full TDA. Ternak teri amboi, antar anak dan isteri. Ketika kebebasan waktu mulai terasa berlimpah, ketika bisa bangun siang tanpa harus berangkat subuh2 ngejar waktu ke kantor pulang pun sore bahkan malam, ketika bisa kelonan siang hari sama istri eh anak balita kita maksudnya, ketika bisa ke mall pada saat sepi tanpa pusing mikirin parkir, ketika bisa menemani anak belajar ketika menghadapi ujian tanpa rasa lelah karena baru pulang, atau mengajarinya mengaji, atau sholat Jum'at bersama, ketika bisa silahturahim kapan aja dimana aja sama siapa aja dsb.

Namun.

Ada juga bahayanya ternak teri medan. Loh emang kenapa ?. Karena justru dengan semua hal diatas tadi bisa melalaikan kita. Karena selain bisa ternak teri alias antar anak daj isteri juga bisa2 kita MEntang2-menunDA-Nyantai dan nyaman.

Mentang2 banyak waktu maka jadi lebih sering kongkow sama teman2 yang kadang gak jelas manfaatnya, atau jalan2 yang gak jelas arahnya mau kemana. Sering menunda apapun karena enak banyak waktu inih. Enakan nyantai duonk. Jangan salah, comfort zone tidak hanya berlaku untuk karyawan tapi bisa menimpa pengusaha. Yaitu ketika sudah merasa cukup dengan jumlah omset dan pelanggan saat ini, ketika tidak berani menerima tantangan2 baru, ketika mencari jalan yang mudah aja. Kata pak Dahlan Iskan dan pak Jokowi kemarin 'jika tidak berani menerima tantangan dan mencoba hal2 baru maka lebih baik pikirkan kembali atau buang jauh2 pikiran untuk menjadi pengusaha'.

Jadi harusnya gimana dong. Yaela, daku juga baru belajar, wong resign nya juga belom lama :).

Tapi menurut daku, minimal kita sudah membuat action plan apa bukan hanya bulanan tapi harian, untuk apa yang akan dilakukan. Bikin semacam jadwal dengan skala prioritas didalamnya. Pilah dalam kategori mana kegiatan yang urgent-important, urgent-not important, not urgent-important dan not urgent-not important. Tetap bersilahturahim, jangan muntaber alias mundur tanpa berita baik dari komunitas dan teman2 sesama pengusaha, biar bisa ngecas terus semangatnya dan saling sharing.

Hal lain saya dapat dari luar sono. Disono, konsep SOHO atau Small Office Home Office (bisa juga berarti Single Office) itu benar2 dijalankan dengan profesional. Pernah lihat di sebuah acara TV, seorang ayah dari sebuah keluarga berpakaian rapi sambil membetulkan dasinya mencium istrinya lalu membuka sebuah pintu yang ternyata adalah sebuah ruang bawah tanah. Ternyata itu kantornya. Yaela, kirain mau kemana, di dalam rumah aja pakaiannya kayak gitu. Ketika tiba waktu makan siang die naek dah untuk maksi alias lunch eh trus begitu udah selesai masuk turun lagi ke 'kantor' nya.

Katanya menurut psikologi, apa yang kita pakai akan mempengaruhi gaya dan diri kita. Maksudnya, walau kantornya di rumah tapi dengan berpakaian super formil begitu maka pembawaan diri juga akan turut serta, apalagi diperlukan ketika harus berhubungan dengan pelanggan/klien, walau hanya via telepon atau email. Itu juga alasan seorang temen yang konsultan bisnis kemana-mana pakai kemeja gak lupa dasi walau pas ketemu sama temen2-nya yang pakaiannya santai bahkan tato-nya keliatan. Malah dikatain sales panci :).

So kesimpulan siang ini, walau kita sudah ternak teri saat ini tapi jangan sampai ternak teri medan. Profesional tetap dijaga. Waktunya ngantor ya ngantor. Upayakan punya kantor beneran di luar, di ruko keq, kios keq, numpang di kantor atau distro nya teman keq. Pokoknya keluar dari rumah, biar gak 'terjebak' waktunya. Atau jika memang tidak/belum bisa ya jadikan rumah sebagai SOHO tapi syaratnya tetap menjaga profesionalisme. Pak Rosihan sang presiden TDA dalam sharing internet di TDA Bekasi bilang manfaatkanlah ruang tamu karena kita jarang punya tamu toh, taruh meja dan peralatan kantor, jadi yang bertamu ke rumah sebisa mungkin emang urusannya bisnis :).

Waktu saya lagi di kantor tempat usaha, terima SMS dari istri 'ayah, aer galon udah abis' atau 'ayah, ini si ade 'ee terus, cape bolak balik ke kamar mandi'. Jiaaaahhh, resiko jadi pengusaha yang kantornya deket, urusan ngeganti galon dispenser sama ngurusin anak gampang banget manggilnya. Saya bilang 'lah dulu waktu masih kerja di Thamrin gak bisa begini' hahahaha.

Selesai.

Wassalamu'alaikum warahmatuhahi wabarakatuh.

Post a Comment

Please Select Embedded Mode To Show The Comment System.*

Previous Post Next Post