Tahu Diri

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Follow me on twitter @ekojune *hayah :)

Seru sekali membaca perbincangan dalam subjek 'mau bisnis apa ?' yang berawal dari kebingungan untuk memulai bisnis harus mulai darimana terus berkembang menjadi seseorang yang terperosok hutang karena terpengaruh ajaran di suatu komunitas bisnis yang diikutinya.

Saya pernah menulis tentang bahwa tidak ada yang salah dalam cara, strategi, ilmu bisnis yang kita pilih. Bahkan bukan salah dari mentor, motivator, konsultan atau komunitas bisnis yang kita ikuti. Semua terasa benar. Kenapa ? karena memiliki contoh sukses nya masing2. Coba kita sebutkan satu contoh yang sekiranya tervonis sebagai suatu cara yang salah, maka seketika akan ada contoh suksesnya, terlepas berapa banyak prosentasenya.

Itulah sebabnya saya selalu katakan bahwa semua hal itu, termasuk komunitas bisnis, tidak bisa menjamin kesuksesan kita, tapi mereka akan memberikan cara2 dan contoh orang2 yang telah sukses.

Intinya semua tergantung kita dalam menangkap dan melaksanakannya, Semua berakhir pada diri sendiri untuk memilih mau pakai yang mana. Sama halnya dengan kritik, tidak ada kritik yang membangun, kritik ya kritik judulnya. Yang ada adalah respon membangun terhadap kritik itu. Mau diterima sebagai masukan, saran atau angin lalu atau bahkan membalas kritik itu dengan lebih pedas.

Ahli psikologi atau psikiater akan bilang 'janganlah engkau menyalahkan dirimu'. Hal tersebut agar kita lebih tenang, mau menerima diri apa adanya dan stress. Tapi bagi kita sebagai pebisnis maka 'jangan pernah menyalahkan orang lain'. Ini penting agar kita mampu segera bangkit dan maju tanpa harus menunggu bantuan orang lain. Dan dengan tidak melakukan blame-excuse-denial pada faktor luar, maka artinya kita bisa memegang penuh kendali.

Lalu kembali pada pilihan2 tadi, alangkah lebih baik jika kita berupaya mengenali diri sendiri dulu, apa benar2 sudah kenal ?. Gile loe ndro, masa gak kenal sama diri sendiri. Weleh, banyak loh yang begitu, bingung sama dirinya sendiri, siapa aku, bagaimana aku, koq bisa begini ya dsb. Soalnya saya juga kadang2 begitu hahaha.

Maksudnya begini, sama halnya dengan ketika mau invetasi, maka ketika berbisnis kita kudu tau nih tipe kita ada dimana. Tipe ini adalah karakteristik kita, sifat dan sikap yang biasanya kita miliki. Klo bingung bin keder sama karakter sendiri, bisa juga dari pihak luar. Inilah maksud tadi bahwa kita kadang butuh orang luar untuk tau siapa kita, mengungkapkan sesuatu yang selama ini tersembunyi dan tidak kita sadari.

1. Konvensional
Tipe ini cenderung terlalu takut dalam melakukan sesuatu. Terlaku banyak berpikir tentang resiko. Terlalu lama menghitung untung-ruginya. Oleh sebab itu dalam investasi, tipe orang seperti ini cocoknya di pasar uang seperti deposito, tabungan, obligasi dsb. Sesuatu yang minim resiko kalo tidak mau dibilang tanpa resiko. Mereka mendekap comfort zone begitu mesra.

Sedangkan dalam bisnis, mereka akan memilih jenis bisnis yang juga minim resiko, seperti frenchise sistem tertutup seperti Alfamart dan saudaranya. Walau usaha itu juga mengandung resiko seperti ketika muncul katakan pesaing tapi tetap lebih minim resiko. Jika kita tipe seperti ini Om Bob akan bilang lebih baik jadi karyawan saja, karena pebisnis jelas adalah seseorang yang mesra dengan resiko bisnis

2. Moderat
Tipe ini sudah mulai ingin bermain dengan lebih banyak resiko tapi tetap tidak ingin kebanyakan alias masih perlu menghitung dan berpikir agak lama untuk action. Dalam berinvestasi ia akan mulai melirik sektor pasar saham selain pasar uang. Jika ambil reksadana ia akan ambil yang 60% adalah saham sedangkan 40% adalah deposito.

Dalam bisnis, dialah si ampbhibi, alias seorang karyawan yang mulai melirik dan bermain bisnis. Ia ingin belajar berbisnis sedini mungkin dan mendapatkan keuntungan darinya tapi dilain sisi jangan dulu melepas statusnya sebagai seorang karyawan agar aliran gaji tetap aman. Tujuan akhirnya tetap suatu saat akan menjadi full pengusaha. Ini sudah bagus karena ia sadar suatu saat entah kapan toh akan melepas status karyawannya, maksudnya entah itu kerena pensiun atau PHK, jadi ia sudah terjun sejak awal.

Jika memilih sistem bisnis kemitraan, ia akan pilih yang sistem terbuka alias manajeman masih perlu keterlibatan dirinya, seperti www.onthespotcoffee.com hehe. Itu karena ia juga ingin belajar. Minimal belajar mengendalikan resiko. Untuk urusan modal, ia akan berupaya memenuhinya dari dirinya sendiri atau relatif terdekatnya, jikapun berhutang maka nilainya masih sedikit. Bagi Safir Senduk, pengajar manajemen keunganan, tipe ini sudah cocok memilih jenis jalur tranformasi yang smooth dari karyawan menjadi pengusaha, bukan bakar kapal seperti tipe beruikutnya.

3. Agresif
Nah ini tipe yang anti kemapanan alias tiada takut dengan resiko alias berani abis. Termasuk penganut 'high risk high return' atau 'no pain no gain'. Klo berinvestasi ia mendingan berinvestasi di bisnis atau minimal property sekalian dengan hutang sebanyak mungkin. Tapi bukan berarti tanpa perhitungan dan berpikir. Tetap digunakan namun dalam porsi yang teramat kecil sekali amat sangat. Gunakan perhitungan kasar dan pemikiran global, bukan perhitungan njelimet dan pemikiran detil.

Mereka berani membakar kapal, suatu istilah yang diambil dari kisah pertempuran dimana komandan pasukan membakar kapal yang membawa mereka menyeberang dan berteriak 'kita tidak dapat kembali karena kapal sudah terbakar, hanya ada satu jalan kedepan walau musuh menanti, jalan kemenangan'. Hal yang cukup memotivasi karena artinya 'no return'.

Dalam berhutang ia akan berprinsip 'hutang kecil kita yang pusing, sekalian hutang besar agar malah bank yang pusing'. Om Bob Sadino ada dalam barisan ini, juga pengusaha sukses dan calon pengusaha sukses lainnya. Dalam memandang kegagalan mereka anggap sebagai kenaikan kelas ke yang lebih tinggi. Gak gagal gak asik. Dahlan Iskan bahkan nyuruh agar kita gagal tahun ini sehingga siap dalam menyongsong kebangkitan Indonesia di tahun 2018. Bukan ditangkap sebagai menggagalkan apa yang sudah dijalani saat ini tapi beranilah mulai sekarang, jangan takut akan resiko.

Kembali kepada permasalahan pilihan tadi, mari kita liat kedalam diri kita, seperti tipe apakah kita. Kalo perlu bercermin. Jangan sampai kita tergoda dengan ajaran dari luar, contoh tentang hutang besar, tapi ternyata mental kita tidak cukup kuat dan besar untuk memegangnya. Kalaupun sudah dapat ilmu dan strateginya tapi tetap kekuatan pikiran dan mental adalah penentunya. Mind set.

Cilakanya, ketika alami kegagalan maka buru2 menyalahkan orang lain, atau ilmu bisnis tertentu atau komunitas bisnis yang diikuti.

Walau demikian, telah sedikit disinggung diatas, diakui terkadang kita perlu orang lain untuk membuka tabir diri kita sendiri. Contoh, seorang teman yang tadinya berpikir seorang yang penakut dalam berbisnis dan mengiranya bertipa Konvensional kemudian mendapatkan motivasi yang intens dari teman lainnya malah bisa berubah menjadi tipe Moderat. Butuh orang lain untuk meng-encourage diri kita agar berubah.

So, mari kita tau diri, maksudnya mencoba menggali siapa diri kita, apa tipe kita. Hyukk mareee.

Wassalam.

- Eko June -

Post a Comment

Please Select Embedded Mode To Show The Comment System.*

Previous Post Next Post